Archive for April, 2006

Kecebong

Monday, April 17th, 2006

What do you do when you are in the English Country side?  Ramble atau jalan jalan di bukit bukit of course.

Jadi hari jumat, karena cuacanya enak, Oli, Abi dan saya jalan jalan di bukit bukit di Shropshire selatan.  Di tengah perjalanan, kita melihat genangan air (yang lubangnya awalnya di sebabkan ada traktor lewat) yang penuh dengan kecebong!  Abi dan Oli langsung sibuk membuka jalan buat para kecebong (karena banyak yang terperangkap di telurnya sendiri), Abi langsung saja memasukkan tangannya ke genangan air yang berlumpur itu.  Saya sih nonton aja ha ha ha, abis rada rada geli gitu lho.

Di rumah lalu kami cerita ke Bapak Ibu Morris, tentang kecebong kecebong itu.  Dan langsung mereka semangat, dan bilang kalau mereka butuh kecebong buat kolam yang dibelakang rumah.  Dan Oli langsung bilang kalau saya dan Oli bisa kembali kesana bawa ember, untuk ambil si kecebong kecebong tersebut.

Lalu dengan bersemangat kita pergi ke genangan air yang sama dan sibuk memasukkan si kecebong ke botol air dengan menggunakan gelas plastik.  Tapi herannya saya kok jadi nggak geli ya ngobok ngobok genangan air berlumpur he he he.  Dan dengan bangga kita balik pulang dan tunjukkan hasil buruan kita ke bapak dan ibu Morris. 

Nggak pernah tuh saya pikir, bahwa suatu hari, saya akan nangkap kecebong.

Makan di restaurant di Inggris

Sunday, April 16th, 2006

Hari sabtu kemarin, kita berempat makan siang di Hotel Dinham di Ludlow, and it was one of the best meals i have ever had.

Why???  Is it the food?? well, of course, but there were more to that.

Waktu kita sampai di hotel, tersebut, langsung ada pegawai hotel yang menyambut dan bilang, you are here for lunch aren’t you? lho kok tau ya.  Lalu kita diminta duduk di salah satu lounge mereka (jadi nggak langsung ke meja buat makan).  Lalu dia tanya kalau kita mau minum sesuatu dan juga kasih menu makanan ke kita.  Menunya tidak panjang, tapi cukup variatif.  Dan si ibu pelayan kembali lagi dengan minuman dan catat pesanan makanan kita.

Setelah beberapa menit menikmati minuman sambil ngobrol, kita diberi tahu bahwa meja sudah siap.  So pindahlah ke meja yang terletak di conservatory nya hotel Dinham.  Tidak sampai lima menit kemudian terhidanglah makanan pembuka.  Saya sih nggak pesan makanan pembuka, soalnya saya sudah ngintip menu dessert, dan oke punya, jadi no starter biar ada tempat buat dessert he he he.

Semua orang terkesan dengan kualitas makanan, daging sapi saya empuk dan lezat.  Kalaupun ada kritik ya paling kenapa ya porsinya kecil he he he, tapi bagus juga sih, jadi masih cukup tempat buat dessert.  Saya makan sticky toffee pudding buat dessert, and it was delightful… tidak terlalu manis tapi masih cukup nendang, just right for me.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, mau minum kopi atau teh?? of course…. dan disarankan kita pindah ke lounge untuk minum teh dan kopi.  Kita pilih sofa di depan perapian api, very cosy.  Rasanya everything just stop, and kita semua merasa relax sekali.  Ludlow hari itu kan sibuk sekali (kayak Bandung kalau weekend gitu, crowded), tetapi di hotel Dinham, semuanya relax dan tenang.  Tidak ada kesan terburu buru, sehingga rasanya sama lho dengan pergi ke spa.

Datanglah si pelayan dengan nampan besar berisi kopi dan teh kita.  Dan tentu petit four!  Yum yum….  Lovely end for our meal.  Tidak terasa kita sudah di hotel Dinham selama tiga jam. 

Saya pikir, yang membuat semuanya itu terasa spesial ialah karena hotel tersebut suasananya Inggris sekali dan sangat welcoming.  Dan juga pindah pindah meja itu juga membuat acara makan siang itu lebih relaxing (jadi nggak cuma duduk di meja makan saja), duduk di sofa really makes the difference.  Dan juga the food was beautifully presented.

Billnya??? not cheap, tapi it worthed every penny :)

Resep pernikahan bahagia

Sunday, April 2nd, 2006

Karena daku naik Singapore Airlines pas balik ke London dari Jakarta, jadilah harus naik pesawat ke Singapura lalu ganti pesawat di Singapura. 

Setelah ditangisi nyokap pas gue pamit di cengkareng, boardinglah daku ke pesawat.  Seorang ibu setengah baya duduk di sebelah daku.  Percakapan kamu dimulai dengan si Ibu bertanya akan kemanakah saya terbang dan dimulailah percakapan yang sangat menarik ini.

Ibu Hita adalah awalnya berkebangsaan Tionghoa tetapi beliau sekarang adalah warganegara Jerman.  Dia bercerita bahwa dia sudah berjalan jalan keliling dunia di dalam 12 bulan terakhir, lalu dia berkata bahwa suaminya meninggal sekitar 18 bulan yang lalu dan karena dia sangat kehilangan suaminya ia memutuskan untuk berkeliling dunia.

Ibu Hita sudah menikah selama 35 tahun dan selama 35 tahun masa pernikahan tidak pernah ada pertengkaran yang berarti.  Mereka sangat mencintai satu sama lain.  Menurut ibu Hita salah satu aspek paling penting untung pernikahan yang bahagia adalah kemauan untuk mengalah dari dua behak pihak.  Ia bilang suaminya itu orangnya sangat baik dan sabar, ia selalu bilang terimakasih setelah ia memakan masakan sang istri.  Ia juga suami yang sangat gentlemen, misalnya selalu membukakan pintu mobil buat Ibu Hita.

Perginya sang suami sangat mendadak membuat ibu Hita sangat kehilangan.  Sang suami mendapat serangan jantung dan meninggal di pelukan ibu Hita.  Setelah meninggalnya sang suami ibu Hita menerima surat dari sang suami yang pada intinya menyatakan terimakasih atas cinta kasih ibu Hita selama hidupnya.  Sang suami juga telah menyiapkan semua surat surat hukum yang memudahkan pengurusan harta warisan.

Ibu Hita menyatakan ia merasa hidupnya kosong setelah ditinggalkan sang suami dan juga merasa ia tidak bisa tinggal di tempat tempat yang mereka pernah tinggali atau kunjungi karena kenangan mereka berdua terlalu kuat di tempat tempat itu.  Ia berkeliling dunia sambil mencari tempat yang cocok buat ia berlabuh dan akhirnya ia mengunjungi kota jambi dan merasa ia bisa tinggal di sana.  Ia memutuskan untuk tinggal di Jambi sambil melakukan kerja suka rela untuk membantu rakyat sekitar.  Ia berkata bahwa ia sudah tidak ada keinginan lain selain untuk membantu sesama dan seluruh peninggalan suaminya akan ia gunakan untuk itu.

Selama ibu Hita bercerita, mata saya kadang berkaca kaca, karena terasa sekali rasa cintanya yang sangat besar terhadap suaminya.  Saya katakan kepada beliau bahwa ibu Hita sangat beruntung untuk bisa mendapatkan perkawinan yang begitu bahagia dan merasakan cinta kasih dari suaminya selama 35 tahun, dan saya berharap bahwa saya bisa mendapatkan suami yang sebaik suami ibu Hita dan perkawinan yang seharmonis itu.

Ibu Hita sekali lagi bilang bahwa kesediaan untuk mengalah dari dua belah pihak itu sangat penting.  Dan bila ada masalah, perlu diliat kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya.

Saya berdoa ibu Hita bisa memulai kehidupannya yang baru di Jambi dengan lancar dan saya juga berdoa supaya usahanya untuk membantu orang orang di Jambi tidak akan sia sia.

 

Mudik

Sunday, April 2nd, 2006

Gue baru mudik nih kawan kawan.  Dua minggu mudiknya, kayaknya sih dua minggu itu lumayan lama ya, tapi nyatanya kok rasanya cepet banget ya?

Update yang gue berhasil gue dapatkan pas pulang adalah:

Banyak band baru yang ngetop di indonesia.  Gigi masih lumayan ngetop, tapi kalau dibandingin sama band band yang baru, jadi keliatan tua gitu….  aduh gue jadi ngerasa tua sekale!

PIM II sudah dibuka, berhubung rumah deket dari sana, kalau ketemuan temen gue kesana aja.  Jadi harusnya gue dapet loyalty card nggak sih? 

Tol ke Bintaro/serpong sudah dibuka jadi kalau ke Bintaro jadi cepet.  Gue berhasil ke rumah aan yang di Bintaro ujung (itu sih menurut Aan) tanpa tersasar!

Starbucks banyak banget ya di Jakarta sekarang.

Jalan tol ke Bandung bikin ke Bandung sehari balik itu asik banget, tapi ya jangan pas weekend.  Sempet ke FO tapi kok ya penuh banget (ada rombongan ber bis di sana) jadi ya gue udah keburu suntuk duluan dan nggak beli apa apa selain pashmina boong boongan ha ha ha.